Jumat, 19 Agustus 2011

Tiga Tipe Penggosip dan Cara Menghadapinya

JUJUR saja, orang umumnya senang bergosip. Tempat kerja pun tak lepas menjadi sarang penggosip. Ada saja yang digosipkan, mulai dari masalah rumah tangga rekan kerja sampai kelakukan si bos yang doyan marah-marah.

Sebenarnya tak heran juga. Jika Anda menghabiskan lebih dari delapan jam sehari dengan orang-orang yang sama, tentu banyak hal yang bisa diceritakan. Sebagian dari percakapan berlangsung sehat, tapi sisanya bisa jadi berupa gosip yang berdampak negatif bagi lingkungan kerja.

Jika dipilah-pilah, ada beberapa tipe penggosip. Kenali tipe penggosip apa saja yang ada di kantor Anda, dan pelajari cara terbaik untuk menghadapinya:

Tape recorder
Suatu hari, Anda mencurahkan keprihatinan tentang atasan yang kurang fokus pada pekerjaan selama beberapa minggu terakhir. Keesokan harinya, Anda mendengarkan versi cerita Anda dari rekan kerja lain yang tidak berada di sana ketika percakapan terjadi.

Jika berhadapan dengan orang seperti ini, jaga percakapan agar tetap fokus pada proyek bisnis dan pekerjaan. Hindari membicarakan persoalan pribadi atau hal-hal sensitif lain, jika tidak ingin perkataan Anda diputar ulang olehnya ke semua orang.

Agen ganda
Inidividu seperti ini senang mengadu domba. Dia bergosip tentang atasan di depan Anda, lalu berbalik dan menggosipkan Anda di depan atasan. Hal serupa juga dilakukannya terhadap rekan-rekan kerja lain.

Jika menemui orang seperti ini, simpan saja semua perasaan negatif soal individu lain di perusahaan untuk diri sendiri. Jangan mencurahkan pendapat atau perasaan Anda padanya. Sebab, semua itu berisiko diputarbalikkan olehnya. Jika menjadi korbannya, konfrontasikan saja langsung tindakan tercelanya itu. Dia mungkin tidak akan berubah, tapi setidaknya tahu Anda bukan target yang mudah ditundukkan.

Si pengeluh
Jenis orang satu ini hobi mengeluh tentang apa saja. Rasanya, tiap hari ada saja yang dikeluhkannya, mulai dari atasan yang memberikan terlalu banyak pekerjaan, sampai anak baru yang tidak becus bekerja. Wajar memang seseorang mengeluh jika merasa frustrasi. Tapi, jika dilakukan setiap waktu kelewatan namanya.

Si pengeluh umumnya suka bergosip dengan sesama pengeluh pula. Oleh karena itu, taktik terbaik adalah menolak terlibat dalam percakapan ketika dia mulai bergosip tentang korban terbarunya. Anda hanya akan menyiramkan bensin ke atas api jika ikut-ikutan menjelek-jelekkan orang yang digosipkannya. Sebaliknya, sebutkan hal-hal positif tentang orang itu untuk menutup mulutnya.

http://www.mediaindonesia.com/
Send and receive faxes from ANY Web-connected computer - Fax Thru Email